Seorang anak di saat teman-teman sebayanya bisa pulang sekolah untuk berganti seragam, bercanda, atau mengerjakan PR, Naira justru harus menenteng plastik berisi opak (kecimpring) dan berjalan menyusuri jalanan ramai. Di tengah bising kendaraan, suara kecilnya terdengar lirih, “Opak…opak… opaknya pak bu…”
Sejak kecil, hidup Naira sudah dipenuhi kehilangan. Saat usianya baru 5 tahun, ibunya meninggal dunia. Luka itu belum pulih, empat tahun lalu ayah yang sangat ia cintai pun pergi untuk selamanya akibat kecelakaan kerja. Sejak hari itu, dunia Naira benar-benar runtuh.
Tak ada lagi tempat ia bisa pulang. Tak ada lagi pelukan yang menguatkan. Kini, ia hanya menumpang di sebuah ruangan kecil milik tetangga yang iba melihat keadaannya.
Naira bukanlah anak yang mudah menyerah. Siang hari ia tetap berangkat ke sekolah, meski sering harus berjalan kaki jauh karena tak punya ongkos. Sore hingga malam, ia berjualan opak. Dari hasil jualan itu, ia hanya membawa pulang sekitar Rp20.000 per hari. Uang itu dipakai untuk membeli beras, dan kalau masih ada sisa barulah ia gunakan untuk ongkos sekolah.
Namun sering kali dagangannya tak habis. Di saat itulah, Naira hanya bisa menahan lapar dengan perut kosong, duduk di pinggir jalan sambil menahan dinginnya angin malam.
Meski segala keterbatasan menjeratnya, Naira masih punya mimpi sederhana: ia ingin terus sekolah, supaya bisa meraih cita-citanya dan memperbaiki hidup.


